1/10/2017

Artikel
Pendidikan Anak Usia Dini
Oleh : Nonok Dedah Sopiati
Mahasiswa STAI Miftahul Huda-Subang
Anak adalah anugrah dan amanah dari Tuhan, anak juga merupakan wujud dari regenerasi dan juga merupakan modal utama dalam pembangunan jangka panjang manusia, karena itu tentulah harus di berikan pendidikan yang memang benar-benar bisa menciptakan anak tersebut menjadi manusia yang berkualitas, dan sejatinya anak harus dididik semenjak usia dini bahkan semenjak fase pranatal karena memang pendidikan anak diusia dini merupakan modal dasar anak dalam mengkonsep, membentuk, dan menentukan jati dirinya pada fase dewasa, pendidikan usia dini merupakan pendidikan yang menggarap anak pada usia emas (golden age). Pada masa inilah perkembangan anak mesti diperhatikankan sebaik-baiknya mulai dari segi kognitif, emosional, maupun psikomotoriknya. Tanamkanlah pada fase usia dini ini, pendidikan-pendidikan yang sekiranya bisa membentuk anak mempunyai karakter yang baik, terutama pendidikan agama.
Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, intelektual, emosi sosial, maupun moral-spiritual, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Pada umumnya terdapat hubungan atau korelasi yang positif antara aspek-aspek tersebut. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakit-sakitan), maka dia akan mengalami kemandegan dalam perkembangan aspek lainnya, seperti : kecerdasan dan emosinya. Begitu pula, apabila perkembangan spiritualitas keagamaan anak kurang baik, maka anak akan berkembang menjadi seorang yang berkarakter dan berkepribadian yang tidak baik.
Untuk itulah, kaitannya dengan pendidikan agama, orang tua yang merupakan komponen terpenting dan utama dari suatu tatanan hierarki keluarga harus bisa benar-benar membimbing, mengasuh, dan mendidik anak dalam masalah agama. Karena dari pendidikan keluargalah anak akan mulai mengenal tentang agama. Seperti tentang awal mengenal Tuhan, biasanya anak akan mulai mengenal-Nya dari figur seorang ayah. Disinilah, seorang ayah harus bisa memerankan peran Tuhan, dalam artian seorang ayah harus bisa menjadi figur yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan seperti sifat penyanyang, pengasih, baik hati, pemaaf, dan sifat-sifat baik lainnya. Sedangkan dalam hal pembelajaran agama yang sifatnya ibadah, usahakan kalau orang tua terutama ayah harus bisa memberikan contoh langsung.
Pada dasarnya kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas itu berlaku dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga dengan yang bagaimanapun juga keadaannya. Hal itu menunjukan ciri-ciri dari watak rasa tanggung jawab setiap orang tua atas kehidupan anak-anak mereka untuk masa kini dan mendatang. Bahkan para orang tua  umumnya merasa bertanggung jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anak mereka. Karenanya tidaklah  diragukan bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul kepada orang tua. Apakah tanggung tanggung jawab pendidikan itu diakui secara sadar atau tidak, hal itu adalah merupakan “fitrah” yang telah dikodratkan Allah SWT kepada setiap orang tua. Mereka tidak bisa mengelakan tanggung jawab  itu karena telah merupakan amanah Allah SWT yang dibebankan kepada mereka.
Namun ironisnya, banyak sekali orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anak pada usia dini ini terutama masalah pendidikan agamanya, pada akhir













Daftar Pustaka
Syamsu Yusuf L.N. Perkembangan Peserta Didik. 2014. PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal. 4

Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. 2014. PT Bumi Aksara. Hal. 36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar