Artikel
Pendidikan Anak Usia
Dini
Oleh
: Nonok Dedah Sopiati
Mahasiswa
STAI Miftahul Huda-Subang
Anak
adalah anugrah dan amanah dari Tuhan, anak juga merupakan wujud dari regenerasi
dan juga merupakan modal utama dalam pembangunan jangka panjang manusia, karena
itu tentulah harus di berikan pendidikan yang memang benar-benar bisa
menciptakan anak tersebut menjadi manusia yang berkualitas, dan sejatinya anak
harus dididik semenjak usia dini bahkan semenjak fase pranatal karena memang
pendidikan anak diusia dini merupakan modal dasar anak dalam mengkonsep,
membentuk, dan menentukan jati dirinya pada fase dewasa, pendidikan usia dini
merupakan pendidikan yang menggarap anak pada usia emas (golden age). Pada masa inilah perkembangan anak mesti diperhatikankan
sebaik-baiknya mulai dari segi kognitif, emosional, maupun psikomotoriknya.
Tanamkanlah pada fase usia dini ini, pendidikan-pendidikan yang sekiranya bisa
membentuk anak mempunyai karakter yang baik, terutama pendidikan agama.
Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik,
intelektual, emosi sosial, maupun moral-spiritual, satu sama lainnya saling
mempengaruhi. Pada umumnya terdapat hubungan atau korelasi yang positif antara
aspek-aspek tersebut. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami
gangguan (sering sakit-sakitan), maka dia akan mengalami kemandegan dalam
perkembangan aspek lainnya, seperti : kecerdasan dan emosinya. Begitu pula,
apabila perkembangan spiritualitas keagamaan anak kurang baik, maka anak akan
berkembang menjadi seorang yang berkarakter dan berkepribadian yang tidak baik.
Untuk itulah, kaitannya dengan pendidikan agama, orang
tua yang merupakan komponen terpenting dan utama dari suatu tatanan hierarki
keluarga harus bisa benar-benar membimbing, mengasuh, dan mendidik anak dalam
masalah agama. Karena dari pendidikan keluargalah anak akan mulai mengenal
tentang agama. Seperti tentang awal mengenal Tuhan, biasanya anak akan mulai
mengenal-Nya dari figur seorang ayah. Disinilah, seorang ayah harus bisa
memerankan peran Tuhan, dalam artian seorang ayah harus bisa menjadi figur yang
mempunyai sifat-sifat ketuhanan seperti sifat penyanyang, pengasih, baik hati,
pemaaf, dan sifat-sifat baik lainnya. Sedangkan dalam hal pembelajaran agama
yang sifatnya ibadah, usahakan kalau orang tua terutama ayah harus bisa
memberikan contoh langsung.
Pada dasarnya kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas
itu berlaku dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga dengan yang bagaimanapun
juga keadaannya. Hal itu menunjukan ciri-ciri dari watak rasa tanggung jawab
setiap orang tua atas kehidupan anak-anak mereka untuk masa kini dan mendatang.
Bahkan para orang tua umumnya merasa
bertanggung jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anak mereka.
Karenanya tidaklah diragukan bahwa
tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul kepada orang tua. Apakah
tanggung tanggung jawab pendidikan itu diakui secara sadar atau tidak, hal itu
adalah merupakan “fitrah” yang telah dikodratkan Allah SWT kepada setiap orang
tua. Mereka tidak bisa mengelakan tanggung jawab itu karena telah merupakan amanah Allah SWT
yang dibebankan kepada mereka.
Namun ironisnya, banyak sekali orang tua yang tidak
memperhatikan pendidikan anak pada usia dini ini terutama masalah pendidikan
agamanya, pada akhir
Daftar
Pustaka
Syamsu Yusuf
L.N. Perkembangan Peserta Didik. 2014. PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal. 4
Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. 2014. PT Bumi
Aksara. Hal. 36
Tidak ada komentar:
Posting Komentar