Artikel
Filsafat Pendidikan
(Islam)
Oleh
: Nonok Dedah Sopiati
Mahasiswa
STAI Miftahul Huda-Subang
1.
Filsafat.
Filsafat secara
pengambilan kata (etimologi) diambil
dari bahasa yunani, yaitu Vila Sofia,
vila (cinta) dan shofia (kebijaksanaan). Lalu bahasa yunani tersebut masuk kebahasa
arab menjadi falsafah, masuk kebahasa
Indonesia baku menjadi filsafat. Filsafat itu sendiri mempunyai pengertian (terminologi) yang berbeda-beda,
tergantung obyek yang dikajinya.
Dalam hal ini Al
Farabi menandaskan dalam memaknai filsafat (falsafah)
itu ialah mengutamakan hikmat, atau
dengan perkataan lain mencintai hikmat. Orang yang mencintai hikmat itulah yang
dinamakan filosof (Ash Shiddieqy, 2001). Sebagaimana firman Allah swt : “Allah
memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Barang siapa diberikan
kepadanya hikmah, maka sungguh telah diberikan kepadanya kebajikan yang banyak”
(Q.S. Al Baqarah/2:269). Sedangkan menurut Nasution (Prasetya, 1997:10),
intisari filsafat ialah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas
(tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya
sehingga sampai kedasar-dasar persoalannya.
Namun filsafat
dapat diketahui pengertiannya dari karakteristiknya, yaitu universal (semua
obyek), integral (menyeluruh, dalam artian tidak setengah-setengah dalam
mengkajinya), radikal (sampai seakar-akarnya), sistematis (teratur atau
bertahap). Dan obyek kajian filsafat itu tidak terlepas dari tiga kajian, yaitu
ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi atau sering disebut juga dengan
metafisik, berbicara tentang hakikat tentang sesuatu. Mudahnya, ontologi adalah
kajian tentang sesuatu yang diawali dengan pertanyaan “apa”. Epistemologi,
adalah kajian filsafat yang membicarakan tentang asal usul (dari mana) sesuatu
itu ada, biasanya diawali dengan pertanyaan “bagaimana” atau “darimana”.
Sedangkan kajian filsafat yang terakhir aksiologi, adalah kajian filsafat yang
membahas tentang nilai, manfaat atau kegunaan sesuatu yang dibahas tersebut,
seperti pertanyaan “untuk apa”. Dan tujuan filsafat adalah seperti yang
dikatakan Plato (Kattsoff, 2004:1) : “…filsafat memang tiada lain daripada
usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus
menerus”.
2.
Pendidikan.
Istilah pendidikan
dalam konteks islam pada umumnya mengacu pada term al tarbiyyah, al ta`dib,
dan al ta`lim. Dari ketiga istilah
tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan islam ialah al tarbiyyah. Sedangkan term al ta`dib dan al ta`lim jarang sekali di pergunakan. Padahal kedua istilah
tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan islam. Kendatipun
demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga terma tersebut memiliki kesamaan makna
yang sama. Namun secara esensi mempunyai perbedaan, baik secara tekstual maupun
konstekstual (Al-Rasyidin, 2005:25). Pengertian itu sendiri telah tertulis pada Undang-undang RI No 20
Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 yaitu : Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
3.
Filsafat
Pendidikan.
Berarti jika
kata filsafat dan pendidikan itu disatukan mempunyai pengertian, berfikir
secara mendalam melalui metode tertentu tentang masalah-masalah yang ada pada
pendidikan. Perlu dicatat, bahwa sebenarnya ketika kita belajar tentang
pemikiran-pemikiran filsafat yamg sudah ada (para ahli filsafat tertentu), kita
belum belajar filsafat dan berfilsafat, tapi kita hanya belajar sejarah
filsafat.
Menurut Prasetya
(1997:18), bahwa pemahaman terhadap filsafat pendidikan itu bisa melalui dua
pendekatan :
a. Menggunakan
pendekatan tradisional, dan
b. Menggunakan
pendekatan yang bersifat kritis.
Pada pendekatan
pertama digunakan untuk memecahkan problem hidup dan kehidupan manusia
sepanjang perkembangannya, sedangkan pada pendekatan kedua, digunakan untuk
memecahkan problematika pendidikan masa kini.
Karena filsafat
itu adalah suatu pola pemikiran, maka dalam perkembangannya pun terbagi kepada
beberapa aliran, tergantung berpijak darimana filsafat tersebut, atau pandangan
dunianya (world view). Dalam filsafat
pendidikan dikenal beberapa aliran, yaitu perenilialisme,
progresivisme, konstrukstivisme, dan lain sebagainya. Pembahasan masalah
yang dikajinya pun begitu luas, mulai dari hakikat pendidikan, hakikat peserta
didik, hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, dan sebagainya. Namun secara
garis besar, Anshari (Prasetya, 1977:33), menggaris bawahi filsafat pendidikan
pada tiga kajian material, yaitu Tuhan, manusia, dan alam.
Maka dari itu,
karena luasnya pembahasan filsafat pendidikan, pada tulisan ini hanya akan
membahas pentingnya filsafat pendidikan islam bagi manusia.
4.
Kaitan
Manusia Dengan Filsafat Pendidikan.
Diantara kajian
keislaman yang kurang mendapat perhatian para ahli adalah tentang konsep-konsep
manusia (antropologis), karena ulama-ulama klasik membahas manusia itu dalam
berbagai disiplin ilmu, tidak dalam kajian yang terpisah.
Ada tiga terminologi manusia yang disebutkan
dalam alqur`an, yaitu :
a. Basyar,
istilah ini merujuk pada manusia sebagai makhluk biologis. Disebutkan sebanyak
27 kali dalam Alqur`an.
b. Insan,
istilah ini mempunyai tiga konteks, yaitu manusia sebagai manusia pemegang
amanah Tuhan (khalifatul fil ard),
manusia sebagai makhluk yang kecenderungan berbuat negatif pada dirinya, dan
yang terakhir manusia sebagai makhluk yang diciptakan. Kata insan ini disebutkan dalam alqur`an
sebanyak 65 kali.
c. An nas,
istilah ini merujuk kepada manusia sebagai makhluk sosial, yang dalam hidupnya
mesti berinteraksi dengan yang lainnya. Kata ini disebutkan dalam alqur`an
sebanyak 240 kali.
Manusia awalnya
adalah makhluk yang sederhana dalam berfikir, sehingga ketika manusia menemukan
suatu hal yang tidak dipahaminya, manusia sering kali menyenderkannya dengan
hal-hal yang tidak rasional (mitos). Namun dengan berkembangnya jaman, pola
fikir manusia pun yang awalnya bersifat mitologis, bergeser pada pseudo, dan akhirnya berfilsafat.
Sehingga di jaman modern sekarang ini, sudah tidak ada lagi gap of god, dalam artian setiap sesuatu
yang terjadi di alam jagat raya ini sudah bisa dijelaskan melalui ilmu
pengetahuan (science) yang merupakan
buah dari berfilsafat. Hingga pada akhirnya manusia akan menafikan Tuhan, jika
dalam hal tersebut (berfilsafat) berpijak pada epistemologi yang materialisme,
namun juga akan menemukan kebenaran yang hakiki jika pijakan berfilsafatnya
adalah epistemologi metafisik (agama)
islam. Karena pembahasan dalam filsafat islam, Tuhan sudah “di temukan”.
Untuk itulah,
pendidikan yang merupakan instrument
pembentuk manusia menuju kesempurnaan, harus berpijak pada filsafat agama.
Karena jika tidak begitu hanya akan melahirkan manusia-manusia yang kerdil,
pintar secara intelektual namun hampa rasa spiritualitasnya. Mungkin inilah
salah satu dilema yang terjadi pada pendidikan di negara tercinta kita ini.
Pendidikan yang masih terdikotomi,
ilmu humaniora (disiplin-disiplin ilmu
kemanusiaan) seakan ada gap
dengan ilmu-ilmu agama. Sebagai contoh, sewaktu kita sekolah dulu, kita
diajarkan bahwa wujud itu ada tiga, materi, gas, dan cair, lalu dimana wujud
Tuhan. Atau kita diperkenalkan dengan teori evolusinya
Darwin, bahwa kita masih satu keturunan dengan kera.
Kita belajar
pada barat. Peradaban modern sekarang ini yang merupakan hasil dari kreasi barat, sebenarnya merupakan
dari sumbangsih peradaban islam klasik (650-950 M). Ketika barat berada pada
jaman kegelapan (dark age), islam
sudah mempunyai peradaban yang sangat maju karena penghargaan islam terhadap
nalar pikiran (akal) dengan jalan berfilsafat. Namun ironisnya, ketika barat
mulai terbangun dari keterbelakangannya, justru dunia islam malah mulai
mengendorkan kreativitas bernalarnya. Maka peran ini pun diambil oleh barat
dengan mengikuti metode-metode Ibnu Rusydi (Averroisme). Tapi apa yang diambil
oleh barat dari Ibnu Rusydi hanyalah aspek rasionalitasnya saja dengan
mengesampingkan aspek spiritual, sehingga kita bisa melihat bagaimana filsafat
barat dibangun pada pondasi materialisme.
Maka dari itu dunia
islam jangan merasa malu untuk belajar kepada barat, karena sesungguhnya ilmu
pengetahuan yang ada pada barat sekarang ini adalah milik umat islam yang
hilang dan dikembangkan oleh barat. Walaupun memang harus difilter kembali oleh
islam karena sudah jauh terkontaminasi oleh nilai-nilai filsafat materialisme
ataupun sekularisme, diantaranya melalui proses islamisasi ilmu pengetahuan.
Ada beberapa ilmuwan muslim yang berbicara tentang konsep islamisasi ilmu
pengetahuan, diantaranya Ismail Fajri Al
Faruqi, dan juga Sayyidi Naquib. Menurut Naquib (Alatas, 2006:282-283),
islamisasi ilmu pengetahuan dalam masa kini melibatkan dua proses yang saling
berhubungan. Yang pertama adalah pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep
kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban barat dari setiap ilmu
pengetahuan masa kini, khususnya ilmu-ilmu humaniora.
Proses ini dinamakan The Dewesternization of Knowledge (proses pemisahan
unsur-unsur barat dari ilmu pengetahuan). Adapun elemen-elemen `asing` harus
dipisahkan dan dieliminasi dari ilmu pada umumnya mempunyai lima karakter yang
saling berhubungan :
1)
Mengandalkan kekuatan akal semata untuk
membimbing manusia mengarungi kehidupan.
2)
Mengikuti dengan setia validitas
pandangan dualistis mengenai realitas dan kebenaran.
3)
Membenarkan aspek temporal wujud yang
memproyeksikan suatu pandangan sekuler.
4)
Pembenaran terhadap doktrin humanism.
5)
Peniruan terhadap drama dan tragedi yang
dianggap sebagai realitas universal dalam kehidupan spiritual, atau
transcendental, atau kehidupan batin manusia, yaitu dengan menjadikan drama dan
tragedy sebagai elemen yang riil dan dominan dalam jati diri dan eksistensi
manusia.
Dan yang kedua
terjadi setelah proses pertama selesai, yaitu pemasukan elemen-elemen islam dan
konsep-konsep kunci kesetiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Proses
inilah yang dinamakan The Islamization of
knowledge (proses islamisasi ilmu pengetahuan).
Melihat carut
marutnya dunia pendidikan Indonesia yang terkesan tidak mempunyai identitas
diri dan terkesan masih adanya pendikotomian ilmu, ada baiknya apa yang
diungkapkan Naquib diatas diaplikasikan dalm dunia pendidikan islam yang
notabene mayoritas penduduknya muslim terbesar seluruh dunia. Indonesia sudah
mempunyai modal berupa sumber daya alam yang mumpuni, tinggal meningkatkan
kualitas sumber daya manusianya, dengan mempunyai konsep pendidikan yang baik
yang diawali dengan berpijak pada filsafat pendidikan islam. Pada akhirnya akan
menciptakan peradaban yang rasionalistik-spiritual.
Daftar Pustaka
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Falsafah Hukum Islam. 2001. PT Pustaka
Rizki Putra.
Prasetya.
Filsafat Pendidikan. 1997. Pustaka
Setya.
Al-Rasyidin.
Filsafat Pendidikan Islam. 2005. PT
Ciputat Press.
Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Ismail
Fajrie Alatas. Risalah Konsep Ilmu Dalam
Islam. 2006. DIWAN. Jakarta.