1/10/2017

Artikel
Filsafat Pendidikan (Islam)
Oleh : Nonok Dedah Sopiati
Mahasiswa STAI Miftahul Huda-Subang
1.             Filsafat.
Filsafat secara pengambilan kata (etimologi) diambil dari bahasa yunani, yaitu Vila Sofia, vila (cinta) dan shofia (kebijaksanaan). Lalu bahasa yunani tersebut masuk kebahasa arab menjadi falsafah, masuk kebahasa Indonesia baku menjadi filsafat. Filsafat itu sendiri mempunyai pengertian (terminologi) yang berbeda-beda, tergantung obyek yang dikajinya.
Dalam hal ini Al Farabi menandaskan dalam memaknai filsafat (falsafah) itu ialah mengutamakan hikmat, atau dengan perkataan lain mencintai hikmat. Orang yang mencintai hikmat itulah yang dinamakan filosof (Ash Shiddieqy, 2001). Sebagaimana firman Allah swt : “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Barang siapa diberikan kepadanya hikmah, maka sungguh telah diberikan kepadanya kebajikan yang banyak” (Q.S. Al Baqarah/2:269). Sedangkan menurut Nasution (Prasetya, 1997:10), intisari filsafat ialah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kedasar-dasar persoalannya.
Namun filsafat dapat diketahui pengertiannya dari karakteristiknya, yaitu universal (semua obyek), integral (menyeluruh, dalam artian tidak setengah-setengah dalam mengkajinya), radikal (sampai seakar-akarnya), sistematis (teratur atau bertahap). Dan obyek kajian filsafat itu tidak terlepas dari tiga kajian, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi atau sering disebut juga dengan metafisik, berbicara tentang hakikat tentang sesuatu. Mudahnya, ontologi adalah kajian tentang sesuatu yang diawali dengan pertanyaan “apa”. Epistemologi, adalah kajian filsafat yang membicarakan tentang asal usul (dari mana) sesuatu itu ada, biasanya diawali dengan pertanyaan “bagaimana” atau “darimana”. Sedangkan kajian filsafat yang terakhir aksiologi, adalah kajian filsafat yang membahas tentang nilai, manfaat atau kegunaan sesuatu yang dibahas tersebut, seperti pertanyaan “untuk apa”. Dan tujuan filsafat adalah seperti yang dikatakan Plato (Kattsoff, 2004:1) : “…filsafat memang tiada lain daripada usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus”.

2.             Pendidikan.
Istilah pendidikan dalam konteks islam pada umumnya mengacu pada term al tarbiyyah, al ta`dib, dan al ta`lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan islam ialah al tarbiyyah. Sedangkan term al ta`dib dan al ta`lim jarang sekali di pergunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan islam. Kendatipun demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga terma tersebut memiliki kesamaan makna yang sama. Namun secara esensi mempunyai perbedaan, baik secara tekstual maupun konstekstual (Al-Rasyidin, 2005:25). Pengertian itu sendiri telah tertulis pada Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 yaitu : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

3.             Filsafat Pendidikan.
Berarti jika kata filsafat dan pendidikan itu disatukan mempunyai pengertian, berfikir secara mendalam melalui metode tertentu tentang masalah-masalah yang ada pada pendidikan. Perlu dicatat, bahwa sebenarnya ketika kita belajar tentang pemikiran-pemikiran filsafat yamg sudah ada (para ahli filsafat tertentu), kita belum belajar filsafat dan berfilsafat, tapi kita hanya belajar sejarah filsafat.
Menurut Prasetya (1997:18), bahwa pemahaman terhadap filsafat pendidikan itu bisa melalui dua pendekatan :
a.       Menggunakan pendekatan tradisional, dan
b.      Menggunakan pendekatan yang bersifat kritis.
Pada pendekatan pertama digunakan untuk memecahkan problem hidup dan kehidupan manusia sepanjang perkembangannya, sedangkan pada pendekatan kedua, digunakan untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.
Karena filsafat itu adalah suatu pola pemikiran, maka dalam perkembangannya pun terbagi kepada beberapa aliran, tergantung berpijak darimana filsafat tersebut, atau pandangan dunianya (world view). Dalam filsafat pendidikan dikenal beberapa aliran, yaitu perenilialisme, progresivisme, konstrukstivisme, dan lain sebagainya. Pembahasan masalah yang dikajinya pun begitu luas, mulai dari hakikat pendidikan, hakikat peserta didik, hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, dan sebagainya. Namun secara garis besar, Anshari (Prasetya, 1977:33), menggaris bawahi filsafat pendidikan pada tiga kajian material, yaitu Tuhan, manusia, dan alam.
Maka dari itu, karena luasnya pembahasan filsafat pendidikan, pada tulisan ini hanya akan membahas pentingnya filsafat pendidikan islam bagi manusia.

4.             Kaitan Manusia Dengan Filsafat Pendidikan.
Diantara kajian keislaman yang kurang mendapat perhatian para ahli adalah tentang konsep-konsep manusia (antropologis), karena ulama-ulama klasik membahas manusia itu dalam berbagai disiplin ilmu, tidak dalam kajian yang terpisah.
Ada tiga terminologi manusia yang disebutkan dalam alqur`an, yaitu :
a.       Basyar, istilah ini merujuk pada manusia sebagai makhluk biologis. Disebutkan sebanyak 27 kali dalam Alqur`an.
b.      Insan, istilah ini mempunyai tiga konteks, yaitu manusia sebagai manusia pemegang amanah Tuhan (khalifatul fil ard), manusia sebagai makhluk yang kecenderungan berbuat negatif pada dirinya, dan yang terakhir manusia sebagai makhluk yang diciptakan. Kata insan ini disebutkan dalam alqur`an sebanyak 65 kali.
c.       An nas, istilah ini merujuk kepada manusia sebagai makhluk sosial, yang dalam hidupnya mesti berinteraksi dengan yang lainnya. Kata ini disebutkan dalam alqur`an sebanyak 240 kali.
Manusia awalnya adalah makhluk yang sederhana dalam berfikir, sehingga ketika manusia menemukan suatu hal yang tidak dipahaminya, manusia sering kali menyenderkannya dengan hal-hal yang tidak rasional (mitos). Namun dengan berkembangnya jaman, pola fikir manusia pun yang awalnya bersifat mitologis, bergeser pada pseudo, dan akhirnya berfilsafat. Sehingga di jaman modern sekarang ini, sudah tidak ada lagi gap of god, dalam artian setiap sesuatu yang terjadi di alam jagat raya ini sudah bisa dijelaskan melalui ilmu pengetahuan (science) yang merupakan buah dari berfilsafat. Hingga pada akhirnya manusia akan menafikan Tuhan, jika dalam hal tersebut (berfilsafat) berpijak pada epistemologi yang materialisme, namun juga akan menemukan kebenaran yang hakiki jika pijakan berfilsafatnya adalah epistemologi metafisik (agama) islam. Karena pembahasan dalam filsafat islam, Tuhan sudah “di temukan”.
Untuk itulah, pendidikan yang merupakan instrument pembentuk manusia menuju kesempurnaan, harus berpijak pada filsafat agama. Karena jika tidak begitu hanya akan melahirkan manusia-manusia yang kerdil, pintar secara intelektual namun hampa rasa spiritualitasnya. Mungkin inilah salah satu dilema yang terjadi pada pendidikan di negara tercinta kita ini. Pendidikan yang masih terdikotomi, ilmu humaniora (disiplin-disiplin ilmu kemanusiaan) seakan ada gap dengan ilmu-ilmu agama. Sebagai contoh, sewaktu kita sekolah dulu, kita diajarkan bahwa wujud itu ada tiga, materi, gas, dan cair, lalu dimana wujud Tuhan. Atau kita diperkenalkan dengan teori evolusinya Darwin, bahwa kita masih satu keturunan dengan kera.
Kita belajar pada barat. Peradaban modern sekarang ini yang merupakan  hasil dari kreasi barat, sebenarnya merupakan dari sumbangsih peradaban islam klasik (650-950 M). Ketika barat berada pada jaman kegelapan (dark age), islam sudah mempunyai peradaban yang sangat maju karena penghargaan islam terhadap nalar pikiran (akal) dengan jalan berfilsafat. Namun ironisnya, ketika barat mulai terbangun dari keterbelakangannya, justru dunia islam malah mulai mengendorkan kreativitas bernalarnya. Maka peran ini pun diambil oleh barat dengan mengikuti metode-metode Ibnu Rusydi (Averroisme). Tapi apa yang diambil oleh barat dari Ibnu Rusydi hanyalah aspek rasionalitasnya saja dengan mengesampingkan aspek spiritual, sehingga kita bisa melihat bagaimana filsafat barat dibangun pada pondasi materialisme.
Maka dari itu dunia islam jangan merasa malu untuk belajar kepada barat, karena sesungguhnya ilmu pengetahuan yang ada pada barat sekarang ini adalah milik umat islam yang hilang dan dikembangkan oleh barat. Walaupun memang harus difilter kembali oleh islam karena sudah jauh terkontaminasi oleh nilai-nilai filsafat materialisme ataupun sekularisme, diantaranya melalui proses islamisasi ilmu pengetahuan. Ada beberapa ilmuwan muslim yang berbicara tentang konsep islamisasi ilmu pengetahuan, diantaranya  Ismail Fajri Al Faruqi, dan juga Sayyidi Naquib. Menurut Naquib (Alatas, 2006:282-283), islamisasi ilmu pengetahuan dalam masa kini melibatkan dua proses yang saling berhubungan. Yang pertama adalah pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban barat dari setiap ilmu pengetahuan masa kini, khususnya ilmu-ilmu humaniora. Proses ini dinamakan The Dewesternization of Knowledge (proses pemisahan unsur-unsur barat dari ilmu pengetahuan). Adapun elemen-elemen `asing` harus dipisahkan dan dieliminasi dari ilmu pada umumnya mempunyai lima karakter yang saling berhubungan :
1)        Mengandalkan kekuatan akal semata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan.
2)        Mengikuti dengan setia validitas pandangan dualistis mengenai realitas dan kebenaran.
3)        Membenarkan aspek temporal wujud yang memproyeksikan suatu pandangan sekuler.
4)        Pembenaran terhadap doktrin humanism.
5)        Peniruan terhadap drama dan tragedi yang dianggap sebagai realitas universal dalam kehidupan spiritual, atau transcendental, atau kehidupan batin manusia, yaitu dengan menjadikan drama dan tragedy sebagai elemen yang riil dan dominan dalam jati diri dan eksistensi manusia.
Dan yang kedua terjadi setelah proses pertama selesai, yaitu pemasukan elemen-elemen islam dan konsep-konsep kunci kesetiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Proses inilah yang dinamakan The Islamization of knowledge (proses islamisasi ilmu pengetahuan).
Melihat carut marutnya dunia pendidikan Indonesia yang terkesan tidak mempunyai identitas diri dan terkesan masih adanya pendikotomian ilmu, ada baiknya apa yang diungkapkan Naquib diatas diaplikasikan dalm dunia pendidikan islam yang notabene mayoritas penduduknya muslim terbesar seluruh dunia. Indonesia sudah mempunyai modal berupa sumber daya alam yang mumpuni, tinggal meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, dengan mempunyai konsep pendidikan yang baik yang diawali dengan berpijak pada filsafat pendidikan islam. Pada akhirnya akan menciptakan peradaban yang rasionalistik-spiritual.











Daftar Pustaka
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Falsafah Hukum Islam. 2001. PT Pustaka Rizki Putra.
Prasetya. Filsafat Pendidikan. 1997. Pustaka Setya.
Al-Rasyidin. Filsafat Pendidikan Islam. 2005. PT Ciputat Press.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Ismail Fajrie Alatas. Risalah Konsep Ilmu Dalam Islam. 2006. DIWAN. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar